Oped Katadata: Ancaman Resesi dan Upaya Mengatasinya

Artikel ini dipublikasi pada 13 April 2020 oleh katadata.co.id, artikel dapat dilihat di sini.

 

Pekan lalu, Direktur Pelaksana Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF), Kristalina Georgieva, menyebutkan, ekonomi dunia tahun ini akan mengalami resesi akibat pandemi virus Corona atau Covid-19. Kondisinya lebih buruk dibandingkan depresi besar yang pernah melanda dunia sebelumnya. Seperti apa gambaran resesi tersebut?

Resesi adalah masa ketika output perekonomian dan pendapatan riil masyarakat turun disertai meningkatnya tingkat pengangguran. Dalam teori Business Cycle, kita mengenal adanya periode ekspansi–resesi–pemulihan.

Biasanya dibutuhkan jeda waktu yang cukup signifikan untuk menentukan, apakah suatu periode sudah masuk ekspansi, akhir ekspansi, atau resesi. Sebagai contoh, Amerika Serikat membutuhkan waktu satu tahun untuk menyatakan ekonominya sudah masuk tahap resesi pada tahun 2008.

Sebelum IMF mengumumkan resesi tersebut, sebetulnya sudah banyak lembaga dan pelaku pasar yang mengkhawatirkan kondisi ini akan atau sudah terjadi. Tekanan terhadap perekonomian negara-negara sudah sangat terasa. Bahkan, lebih dari delapan puluh negara sudah mengajukan permintaan untuk mendapatkan emergency aid dari IMF.

Negara yang tergolong ke dalam Low Income Countries (LICs) membutuhkan dana talangan untuk pengampunan atau penundaan pembayaran utang, karena akses ke pasar keuangan lebih terbatas, atau bisa meminjam tapi dengan imbal hasil yang sangat tinggi. Oleh karena itu, dalam situasi terjadinya kekurangan likuiditas dollar AS di seluruh dunia, negara-negara seperti LICs dan juga negara berkembang akan semakin sulit menarik masuknya aliran dollar.

Lalu, berapa lama resesi ini akan bertahan? Setidaknya ada tiga tipe recovery: V-Shaped (cepat), atau U dan L-Shaped (lebih lambat). Melihat perkembangan pandemi Covid-19 di berbagai negara, sepertinya proses pemulihan akan mengikuti U atau L-shaped.

Lantas, seperti apa implikasinya? Ibarat lari, kebijakan dan strategi bisnis perlu diarahkan untuk memiliki napas lebih panjang, karena akan menghadapi marathon – bukan sprint. Lockdown atau physical distancing perlu dilakukan untuk mempercepat redanya periode wabah, sambil menjaga degup perekonomian untuk tetap hidup.

Suka tidak suka kebijakan pemulihan ekonomi dan keputusan bisnis harus beradaptasi. Sebagai perbandingan, pemulihan dari krisis 2008 membutuhkan waktu empat tahun.


Helicopter Money

Kalau di 2008, krisis berpusat pada sektor keuangan, sekarang dampaknya menyentuh semua sisi perekonomian. Sisi permintaan seperti konsumsi, investasi dan perdagangan turun drastis.

Sisi penawaran atau produksi juga turun karena permintaan turun dan terjadi disrupsi rantai pasok. Likuiditas sektor riil pun terganggu, yang jika dibiarkan dapat berkembang menjadi isu solvabilitas.

Dalam kondisi ini, pelonggaran moneter tidak sepenuhnya membantu, karena permintaan lemah, dan bank semakin berhati-hati menyalurkan kredit.

Selain itu, tingkat risk aversion yang tinggi juga membuat pemilik modal cenderung memegang cash dan melepas aset finansial. Alhasil, harga saham dan obligasi terjun bebas.

Beberapa negara akhirnya mulai mempertimbangkan kebijakan nonkonvensional seperti Helicopter Money Policy. Istilah Helicopter Money pertama kali disampaikan oleh ekonom Amerika, Milton Friedman, pada 1969. Inti kebijakan ini adalah monetasi pengeluaran pemerintah. Monetasi artinya bank sentral mencetak uang baru.

Sebetulnya, Helicopter Money kurang populer di kalangan ekonom karena dikhawatirkan dapat menyebabkan Stagflationary atau perekonomian stagnan dan inflasi tinggi. Namun, dalam kondisi seperti saat ini, dimana pilihan kebijakan sangat terbatas, Helicopter Money kembali jadi salah satu pilihan.

Tambahan dana ini kemudian digunakan pemerintah untuk memberi napas pada perekonomian hingga pandemi ini berlalu. Misalnya, dengan memberi bantuan langsung tunai atau direct transfer kepada masyarakat.

Cara lainnya, memberi bantuan likuiditas kepada dunia usaha serta sektor keuangan untuk menghindari credit crunch dan kebangkrutan secara masif.

***

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This