Kick-Off Meeting Program FEMALE (Female Empowerment & Leadership Acceleration)

Sebagai salah satu Srikandi BUMN di perusahaan Holding Indonesia Financial Group (IFG), Masyita menghadiri Kick-Off Meeting Program FEMALE (Female Empowerment & Leadership Acceleration) yang dicanangkan oleh IFG. Kick-Off meeting yang diselenggarakan pada Kamis, 26 Oktober 2023 lalu, ditandai sebagai awal dari inisiatif pemberdayaan perempuan milik IFG.

Hadir sebagai Guest Speaker, Masyita duduk bersama dengan Sumiyati (Komisaris IFG) dan Irsyad Sahroni (Director & Chief Human Resources Officer Indoesat Ooredoo Hutchison) dalam sesi diskusi yang dimoderatori oleh Rani Soebijantoro (Founder & Chairwoman AMBIZ). Sesi diskusi yang menarik ini membahas bagaimana inklusivitas dapat terwujud dalam lingkup pekerjaan. Sesi dilanjutkan dengan para peserta program FEMALE melalui focus group discussion.

Perempuan di Ranah Kerja

Tidak akan lengkap jika tidak melibatkan perempuan saat membahas soal inklusivitas. Perempuan mengambil porsi lebih dari 50% dari total penduduk di dunia. Bayangkan jika perempuan ini bisa diberdayakan hingga mendukung ekonomi global. Namun sayangnya, perempuan harus dihadapi gender gap, terutama di ranah pekerjaan. Menurut World Economic Forum, setidaknya butuh 131 tahun untuk menyelesaikan isu gender gap di dunia.

Padahal, menurut riset yang dilakukan AMBIZ, 87% perusahaan yang memiliki keberagaman memiliki performa yang lebih baik dibandingkan yang tidak. Karena dalam sebuah tim yang beragam, produktivitas akan meningkat lebih dari 30%. Hingga cashflow yang diterima tiap karyawan bisa 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan karyawan di tempat yang tidak punya keberagaman.

Enabling Environment bagi Perempuan dalam Berkarir

Namun, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, perempuan masih dihadapi oleh tantangan yang berlapis dalam dunia kerja. Untuk itu, Masyita menekankan bahwa perlu ada setidaknya dua sisi dari enabling environment. 

Yang pertama adalah dari sisi institusi. Institusi, baik perusahaan maupun negara, harus mampu mengakomodir keberagaman ini. Misalnya dengan merumuskan kebijakan dan peraturan yang adil bagi pekerja dengan gender dan latar belakang yang berbeda. Contohnya seperti cuti haid, cuti hamil, dan kebijakan lainnya.

Enabling environment yang kedua terletak pada pikiran manusia, perempuan, itu sendiri. Masyita berpesan, jangan menunggu sampai seseorang bisa membuka kesempatan kerja untuk kita. Ingat untuk create out own ladder, career path, and plans dan tanamkan di pikiran bahwa kitalah yang harus membuka jalan. Jangan takut untuk ngegas dan mendobrak glass ceiling untuk menjajaki tangga karir.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This