Indonesia-Japan Policy Research Forum for Asia: Sustainable Finance for Green and Blue Development in Asia

Di tengah ambisi global menghadapi perubahan iklim, dunia harus dihadapi fakta yang menyedihkan. Fakta tersebut adalah, ambisi dan aksi yang dilakukan oleh dunia masih belum cukup. Dari hasil Global Stocktake yang dirilis bersamaan dengan COP28 tahun lalu, aksi iklim global dinyatakan belum sejalan dengan target Paris Agreement.

Meskipun berbagai upaya terkait aksi iklim meningkat, namun nyatanya belum cukup untuk menjaga pemanasan global di bawah 1.5 derajat celcius. Tidak hanya di satu sisi saja, sisi pendanaan juga dinilai belum memadai. Padahal, dunia membutuhkan USD 4,3 triliun untuk mencapai target Paris Agreement di tahun 2030. Faktanya, berbagai komitmen pendanaan yang ada masih belum bisa menutupi kebutuhan pendanaan iklim dunia.

Pendanaan Berkelanjutan untuk Menghadapi Perubahan Iklim

Pada kegiatan Indonesia-Japan Policy Research Forum for Asia: Sustainable Finance for Green and Blue Development in Asia, Masyita membagikan pandangannya pada sesi Sustainable Finance Agenda in Asia. Masyita menjelaskan bagaimana pendanaan iklim perlu dibangun secara berkelanjutan di samping Mami Negishi (Daiwa Securities) dan Toshiro Nishizawa (University of Tokyo) yang berperan sebagai moderator.

Terkait pendanaan iklim, Indonesia telah memiliki beberapa upaya. Upaya ini kerap disebut secara berkala, yaitu Energy Transition Mechanism (ETM). ETM adalah salah satu mekanisme pendanaan mitigasi iklim hasil kolaborasi Indonesia dan Asia Development Bank. Selain ETM, ada pula yang dikenal sebagai Cif Act (Climate Investment Funds Accelerating Coal Transition) Investment Plan.

Selain mekanisme pendanaan yang sudah ada, terdapat satu hal lain yang perlu diperhatikan. Ekosistem yang mengakui aset transisi (transition asset) menjadi krusial, terutama bagi negara seperti Indonesia. Sebagai negara berkembang, Indonesia perlu melakukan transisi sebelum mencapai hijau. Proyek transisi tentu memerlukan dana untuk membantu aksi iklim. Jika ekosistem yang mengakui aset transisi tidak dibangun, maka akan sangat sulit bagi proyek tersebut berjalan.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This